tanjakberita.com -Budidaya Maggot atau Belatung memang terdengar menjijikan. Ternyata diluar daerah budidaya larva maggot ini sedang popular, karena selain manfaatnya untuk pakan ternak juga dapat menghasilkan Cuan Rupiah.
Dikota Dumai sendiri budidaya maggot belum banyak dikembangkan bahkan bisa dikatakan masih sangat sulit ditemukan tempat usaha larva maggot tersebut.
Seorang Pengusaha Maggot, Wawan (45 Tahun) yang juga merupakan ASN di Dinas Pertanian Bengkalis, mulai merintis usaha budidaya Maggot selama 2 bulan. Wawan membuka bisnis Mahgot ini di Rumahnya yang beralamat di Jalan Meranti Darat Seberang Gg. Musholla, Kota Dumai.
Pada awalnya Maggot yang di budidayakan oleh Wawan sekedar untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak nya sendiri seperti Bebek, Ayam dan Ikan sebagai pakan alternatif. Seiring berjalannya waktu, melihat adanya permintaan pasar di Kota Dumai, maka sejak 2 bulan lalu beliau pun mulai mengembangkan budidaya Maggot menjadi skala usaha yang menjanjikan dan dapat menghasilkan Cuan atau Rupiah.
Magot dipilih petani sebagai pakan alternatif ternak, karena memiliki protein hingga 50% serta mudah dibudidayakan secara massal. Budidaya Magot sebagai pakan ikan juga menjadi peluang bisnis yang menjanjikan, karena tidak perlu modal besar.
Wawan beternak Maggot dan pupa yang biasa disebut LalatTentara Hitam atau Black Soldier Fly (BSF), dimana Maggot dewasa yang sedang memasuki tahap kepompong untuk menjadi lalat. Maggot yang sudah menjadi prepupa maupun bangkai lalat BSF masih bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena kaya protein., serta Kepompongnya juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, sehingga dalam proses budidayanya tidak menghasilkan limbah.
Seperti juga halnya dengan belatung, Maggot yang berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik dan juga mengonsumsi sayuran dan buah. Tak hanya buah dan sayuran segar,Maggot pun dapat mengkonsumsi sampah sayuran dan buah, karena Manggot sangat cocok digunakan untuk pengelolaan sampah organik.
Sebanyak 10.000 maggot dapat menghabiskan 1 kg sampah organik dalam waktu 24 jam. Sampah organik yang tidak termakan oleh maggot, tetap bisa dimanfaatkan sebagai sumber kompos atau pupuk organik. Meskipun dari limbah sampah organik, namun pupuk yang dihasilkan tidak berbau, Terang Wawan kepada tanjakberita.com.
Harga jual satu kilogram Maggot Rp.8000 per kilogram, dan saat ini kami hanya mampu produksi sekitar 50 Kg perhari sementara permintaan ke kami sudah tembus 250 Kg perharinya dan dalam waktu dekat kami akan merilis Maggot kering dalam kemasan yang nilai jualnya akan lebih tinggi.
"Kendala yang kami hadapi adalah tempat usaha yang belum memadai dan tenaga kerja yang belum mencukupi, tambah Wawan".
Wawan menambahkan banyak sebenarnya peluang usaha yang bisa dijalankan atau ditekuni untuk masyarakat di Dumai, namun semuanya kembali kepada kemauan kita sendiri. Saat ini, untuk mencukupi kebutuhan sayur-sayuran, ikan air tawar kita masih mendatangkan dari luar daerah, padahal kalau kita mampu berbuat sendiri tentu akan lebih baik dan akan meningkatkan perekonomian daerah kita.
Penulis : Bambang Eka
Editor : Dedi Iswandi