tanjakberita.com -Masyarakat Kelurahan Sungai Geniot dan Batu Teritip Buluhala Kecamatan Sungai Sembilan Kota Dumai menjerit. Pasalnya, kondisi jalan di wilayah mereka hancur dan berlumpur. Hal itu tidak hanya membahayakan pengguna jalan, namun juga berdampak terhadap perekonomian. Masyarakat tidak bisa menjual hasil pertanian yang banyak membusuk karena tak bisa dipasarkan.Daerah Buluhala yang terdiri dari 2 kelurahan, yakni Sungai Geniot dan Batu Teritip dihuni oleh sekitar 7000 KK. Sumber pendapatan mereka sebagian besar dari hasil perkebunan dan pertanian. Diantaranya kebun kelapa sawit, pisang, cabe, sayur mayur dan lainnya. Sejak beberapa waktu belakangan ini, perekomian mereka makin sulit dan terjepit. Lebih-lebih dalam 1 bulan belakangan. Kondisi jalan yang rusak parah ditambah tingginya curah hujan, membuat perekonomian masyarakat lumpuh. Mereka kesulitan mengeluarkan dan memasarkan hasil perkebunan maupun pertanian.Tokoh masyarakat Buluhala, Darmawan kepada kupasberita.com di Dumai mengeluhkan kondisi jalan di daerahnya yang banyak rusak parah." Kami masyarakat di sana sudah mengeluh semua, karena jalannya sudah parah kali. Dampak jalan ini sangat berpengaruh ke ekonomi masyarakat, mayoritas masyarakat di sana itu pekebun, jadi bawa hasil pertanian itu makin susah," ungkap Darmawan, yang juga ketua salah satu Gapoktan di Buluhala, Kamis (22/11/22).Darmawan memaparkan, salah satu jalan dengan kerusakan terparah berada di AS 7 hingga Trans 100. Panjang jalan yang rusak sekitar 6500 meter. Kemudian Jalan Geniot sepanjang 5500 meter. Setelah itu Jalan PU Lama sepanjang 4000 meter. Akses itu merupakan urat nadi jalur transportasi untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan." Terdapat potensi 5000 ton Tandan Buah Sawit (TBS)/Bulan yang melintasi akses jalan itu. Belum lagi pisang, cabe, sayur mayur dan lainnya. Akibat rusak parahnya akses jalan, hasil pertanian dan perkebunan banyak yang membusuk karena tidak bisa dipasarkan. Kami mohon pemerintah agar memberikan perhatian," harap Darmawan.Darmawan menambahkan, masyarakat telah lelah mengeluh dan juga pernah melakukan aksi demo. Namun hingga kini belum menemukan titik terang dari pemerintah setempat." Kami berharap kepada Pak Wali agar bisa memperhatikan kondisi kami yang berada di daerah pinggiran ini," harap Darmawan.Pada sisi lain, lubang menganga dengan diameter cukup lebar dan dalam menjadi pemandangan yang setiap hari dinikmati oleh masyarakat. Lebih parahnya lagi ketika cuaca hujan. Ruas jalan yang seyogyanya menjadi akses utama masyarakat berubah menjadi kolam buatan.Sopir pick up Rancung mengatakan, pihaknya sering terperosok ketika mengangkut hasil perkebunan. Soalnya, jalan sulit dilalui oleh kendaraan sehingga sering terperosok dan mobil sering mengalami kerusakan." Akibat jalan yang rusak parah, biaya kita makin besar. Saat memasuki musim penghujan seperti saat ini, jalan semakin parah dan semakin sulit untuk di lalui," kata Rancung, Kamis (22/12/22).Dengan kondisi tersebut, kata Rancung, pihaknya harus mengeluarkan bajet lebih, karena harus menggunakan jasa orang lain saat kendaraan terperosok." Kami juga harus mengeluarkan ongkos lebih besar, ditambah lagi mobil juga sering mengalami kerusakan akibat
jalan rusak tersebut," tuturnya.Sementara Rizal pemilik kebun sawit mengatakan rusaknya kondisi jalan menyebabkan harga sawit menjadi murah." Sawit terpaksa kita jual dengan harga murah karena kondisi jalannya rusak. Kalau kita langsir keluar ongkosnya juga akan lebih besar lagi. Kalau kami hitung-hitung tidak cukup untuk ongkos garap dan pupuk," ujarnya.Dirinya berharap pemerintah tergerak hatinya untuk membantu masyarakat menyelesaikan persoalan yang selama ini dikeluhkan." Harapan kami hanya satu, jalan ini diperbaiki dengan serius. Kami memanfaatkan jalan ini untuk mencari nafkah. Apakah selamanya kami harus menikmati akses jalan seperti ini. Kami berharap pihak terkait bisa terketuk hatinya mendengarkan harapan kecil kami ini," pungkas Rizal.**